Jam 01:15 Senin sore, dan sejumlah anak-anak, kebanyakan remaja putri menggunakan stocking berwarna cerah, berada di studio senam di Asphalt Green di 90th Street dan York Avenue, melakukan apa yang anak-anak di kelas senam lakukan. Mereka melakukan peregangan di dinding, menekan telapan tangan datar, lengan di atas kepala. Mereka melompat dan mendarat di atas matras sementara instruktur memperagakan contoh gerakan. Sementara itu di balkon, para ibu mereka memperhatikan dengan seksama. Seolah dengan satu mata, mereka mengamati putri mereka bergerak, sementara mata yang lain membaca iPads, mengobrol dengan ibu-ibu yang lain, atau mengawasi anak mereka yang lebih kecil.

Semuanya nampak normal, kecuali untuk satu hal. Ini adalah hari kerja. Pada jam makan siang. Bukankah anak-anak ini seharusnya berada di sekolah? Sebanarnya mereka berada di sekolah, kurang lebih semacam itulah. Mereka adalah para siswa homeschool. Mereka dapat mengikuti kelas senam di tengah hari karena mereka tidak meninggalkan rumah mereka di setiap pagi, yang sarat dengan membawa ransel dan bekal makan siang, menghabiskan enam jam di kelas yang berada di ujung blok atau di bangunan yang berbeda, pada apa yang orang tua mereka sebut sebagai "sekolah reguler". Ibu (dan beberapa ayah mereka) bertindak sebagai guru, kepala sekolah, guru piket dan pustakawan, setelah mengambil alih tanggung jawab akan pendidikan anak-anak dari Pemerintah Kota New York.

Homeschool awalnya merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan metode pendidikan dari para penganut Kristen konservatif di distrik-distrik pedesaan barat dan selatan, yang memprotes pendidikan sekuler dan yang mengikis moral pemuda bangsa, mengambil alih tanggung jawab ke tangan mereka sendiri. Sumber daya awal homeschool - kurikulum dan jaringan online dan papan pesan (message board) - dikembangkan oleh para aktivis Kristen. Internet merupakan fasilitas yang sangat berguna bagi para orang tua ini, mereka yang kepentingannya selaras namun terpisah jarak ratusan mil. "Apakah kita ingin anak kita menjadi seperti guru ultraliberal yang mereka miliki di sekolah umum," tanya wakil presiden dari Southern Baptist Convention pada tahun 2002, "atau kita ingin mereka menjadi seperti orang tua Kristen mereka?"
Tapi dalam beberapa tahun terakhir, jumlah anak-anak yang belajar di rumah telah melejit dari 1,1 juta pada tahun 2003 menjadi 1,5 juta pada 2007 (atau hampir 3 persen dari populasi adalah anak usia sekolah), menurut Departemen Pendidikan Amerika Serikat, jumlah siswa homeschool di kota-kota di Amerika melonjak pesat. Menurut data Departemen Pendidikan AS yang terbaru, sekitar 320.000 anak-anak melakukan homeschool di apartemen, tempat umum dan proyek perumahan nasional. Terdapat kelompok-kelompok pendukung homeschool yang menyediakan berbagai sumber daya, kelas, dan bantuan kurikulum. Di New York City tahun lalu, 2.766 anak-anak yang melakukan homeschool, naik dari 2,550 pada 20010-11. (Dan itu hanya merupakan estimasi terendah, menurut pendukung homeschool untuk wilayah New York, karena belum measukan anak-anak prasekolah atau remaja lebih dari 17). Para orang tua menyebutkan banyak alasan untuk memilih homeschooling, namun agama jarang menjadi salah satu dari alasan mereka. Laurie Spigel, yang menjalankan situs homeschool NYC, memperkirakan bahwa "mungkin satu persen atau kurang" dari keluarga homeschool New York termotivasi karena agama. "Anda dapat mengeneralisasi tentang praktisi homeschool seperti Anda bisa mengeneralisasi tentang masyarakat New York," kata Spigel. Sebagian besar, praktisi homeschool New York City adalah "orang-orang kelas menengah yang berpendidikan," katanya, yang tidak suka apa yang ditawarkan dari Departemen Pendidikan dan yang tidak mampu atau tidak mau membayar iuran sekolah swasta. Dengan cara ini, warga New York yang homeschool mencerminkan populasi homeschool pada umumnya: Proporsi terbesar dari orang tua homeschool di Amerika Serikat berpenghasilan antara $ 50.000 dan $ 75.000 per tahun dan memiliki gelar sarjana atau lebih.

Mengapa Belajar di Rumah?

Orang tua praktisi homeschool Perkotaan sering mengutip homogenisasi pendidikan umum sebagai alasan mereka memilih untuk mengambil alih sekolah anak-anak mereka. Dengan kebijakan pendidikan federal dan negara menempatkan penekanan yang semakin besar pada standar inti dan tes terstandar, banyak orangtua ingin memberikan anak-anak mereka sesuatu yang lebih kreatif, fleksibel, dan lebih dari hari-hari di sekolah lebih seperti produk buatan pabrik. Model satu ukuran yang cocok untuk semua kurang menarik bagi orang tua yang memiliki anak-anak yang "khusus" seperti: sangat cerdas di hal tertentu, pemalu yang sangat, kurang dewasa, atau membutuhkan jadwal fleksibel untuk mengakomodasi jadwal latihan menari atau musik profesional. Di New York, bahkan orang tua di tingkat kabupaten terbaik mengeluhkan prihal padatnya jumlah siswa dan tentang guru, yang walaupun termotivasi dan terampil, harus mengurus banyak hal sehingga cuma mampu memerintah di dalam kelas. Lalu ada masalah yang datang dengan semua sekolah tradisional: bullying, politik dalam pertemanan, dan meningkatnya gadget dan permasalahan ras. Menurut Departemen Pendidikan, hampir 88 persen dari orang tua praktisi homeschool menyatakan keprihatinan tentang lingkungan sekolah, narkoba, pengaruh negatif teman sebaya, dan keselamatan umum.

Kristin Sposito, salah satu ibu di kelas senam Senin sore. Dia dan suaminya, Brett, memutuskan untuk melakukan homeschool pada putri mereka, Maya, 5 tahun. Keluarga Sposito, yang tinggal di Portland, Oregon, pada saat itu, melihat anak-anak di lingkungannya yang pergi ke sekolah reguler. Hari sekolah tampak sangat panjang untuk anak-anak yang begitu muda, pikir Kristin. Dan anak-anak yang pulang sekolah "dengan sikap buruk" katanya. Anak-anak yang penuh dengan keluhan; hubungan keluarga yang tegang; kegembiraan dalam kehidupan keluarga menjadi hilang; dan anak-anak tidak pula menjadi lebih baik setelahnya. "Ini tidak seperti mereka pergi sepanjang hari dan kemudian pulang ke rumah dengan menjadi brilian. Dan tahukah anda, apa yang saya pikir? Ini hanyalah buang-buang waktu. Aku bisa melakukannya sendiri lebih baik. "Keluarganya pindah ke New York City lima tahun lalu. Maya kini berusia 12 tahun. Baik dia maupun dua saudara laki-lakinya, Jonah, 9 tahun, dan Simon, 4 tahun, yang pernah ke sekolah, dan keluarga Sposito senang dengan pilihannya. "Homeschool seperti sebuah rahasia besar, seperti kita mendapatkan sesuatu yang sangat berharga," katanya.

Kebutuhan Homeschool

Relatif mudah untuk memulai homeschooling di New York. Praktisi homeschool hanya perlu berkas dokumen dari Departemen Pendidikan yang menyatakan niat mereka untuk homeschool, menguraikan tujuan kurikulum mereka, dan menjanjikan untuk memenuhi persyaratan tertentu yang sesuai dengan sekolah umum. Orang tua tidak harus memiliki sertifikat tertentu untuk mengajar homeschool dan tidak perlu mematuhi jadwal tertentu.
Beberapa keluarga homeschool sebagian besar meniru jadwal sekolah tradisional: Orang tua membuat rencana pelajaran; memulai dan mengakhiri pada waktu tertentu; menggunakan buku teks dan buku kerja; dan memberikan pekerjaan rumah, tes, dan rapor. "Beberapa keluarga menggunakan kurikulum korespondensi. Mereka mengatakan, "Kami berada di rumah selama jam-jam tersebut." Mereka membunyikan bel dan menggunakan papan tulis, " kata Spigel.
Tapi di New York dan kota-kota lain, di mana pagelaran budaya begitu banyak, banyak keluarga homeschooling sangat bergantung pada lembaga-lembaga budaya kota. Populasi homeschooling New York telah sangat berkembang, pada kenyataannya, bahwa banyak lembaga kota sekarang menawarkan kelas (sering disertai dengan diskon yang menarik) hanya bagi para siswa homeschool. The New York-Historical Society memiliki program di mana siswa homeschool belajar sejarah Amerika melalui teater musikal Broadway dan artefak dalam koleksi; musim gugur ini, mengajar anak-anak tentang ekspansi ke arah barat melalui Oklahoma! dan karya-karya para seniman di Hudson River School. Di Robofun, di Upper West Side, siswa homeschool bekerja berpasangan untuk belajar arsitektur, pemrograman komputer, robotika, dan ilmu teknik dengan membuat robot mereka sendiri. Salah satu program yang paling populer di kalangan keluarga homeschooling New York, dan salah satu yang memenuhi persyaratan pendidikan fisik kota ini, adalah Wayfinders, program permainan berganti peran (role-playing) fantasi di mana anak-anak berjalan di sekitar Central Park dalam tim dengan pedang busa besar memainkan versi epik menangkap bendera.
Saat anak-anak yang lebih tua dan kebutuhan pendidikan mereka menjadi lebih canggih, banyak orang tua homeschool menjangkau jaringan homeschool secara online dan bersatu dengan keluarga lain untuk menyewa guru privat untuk mata pelajaran yang lebih kompleks, seperti ilmu pengetahuan dan matematika, bahasa asing, menari. Orangtua lain berbagi keahlian mereka sendiri. Orang tua yang berprofesi sebagai aktor akan membantu anak-anak untuk menggelar acara; orang tua artis akan mengajar kelas melukis; orang tua terlatih dalam literatur klasik mengajarkan Latin. Sposito, seorang insinyur sipil, baru-baru ini mulai mengajar fisika untuk anaknya Jonah dan salah satu temannya berdasarkan kurikulum yang disebut " Ilmu Nyata –untuk -Anak." Anak laki-laki bereksperimen lab fisika di pagi saat Maya melakukan kelas senam. "Kami melemparkan beberapa bola, menggelindingkan kelereng, dan berbicara tentang inersia," kata Sposito.
Pada ujung spektrum yang lain dari homeschool adalah "unschoolers," orang-orang yang tidak memiliki agenda belajar tertentu”.'Unschooling' adalah belajar tanpa ada semacam kurikulum apapun," kata Amy Milstein, yang menjalankan situs UnschoolingNYC. "Ini belajar melalui kehidupan." Ketimbang mengikuti kurikulum matematika tertentu, misalnya, unschoolers belajar perkalian pecahan ketika mereka menduakalikan berbagai bumbu pada resep ketika mempersiapkan makan malam. Mereka belajar untuk menambah dan mengurangi dalam kepala ketika mereka menghitung kembalian saat bellanja di toko; mereka melakukan perhitungan persentase tips. Dalam unschooling, tidak ada menghafal tabel perkalian, tidak ada tes ejaan, tidak ada pelajaran tata bahasa. "Saya yakin yang membuat kesenangan dalam belajar hilang adalah ketika Anda harus melakukan ini”. Ini pelajaran. Seperti itulah proses belajar selama ini dilakukan, '"kata Milstein. "Hal tersebut merupakan hal yang tidak wajar yang kita yakini selama ini. Tentu saja, akan ada kesenjangan dalam pengetahuan mereka. Tapi mereka akan tahu bagaimana untuk mencari tahu apa yang mereka perlu tahu. "
Pengujian adalah bentuk penyamaan utama antara homeschoolers atau unschoolers dan anak-anak mengikuti persekolahan tradisional. Matematika dan membaca tes yang diperlukan secara berkala, dimulai di kelas empat. Orang tua dapat memilih dari daftar tes diterima, atau mereka dapat memilih untuk tes seluruh kota yang sama, dimana semua masyarakat-sekolah juga mengikutinya (pengaturan dapat dibuat untuk homeschoolers untuk menguji di sekolah umum bersama rekan-rekan mereka). Tes dilakukan di rumah harus diberikan oleh guru bersertifikat atau orang yang memenuhi syarat lain yang disepakati oleh pengawas distrik sekolah Anda. Orang tua harus melaporkan hasil tes dengan mereka untuk penilaian akhir-tahun. Berdasarkan peraturan kota, anak-anak yang mendapatkan nilai di bawah persentil ke-33 dari norma-norma nasional atau tidak yang menunjukkan kemajuan dibandingkan dengan tes tahun sebelumnya, maka program homeschooling mereka akan dimasukan ke dalam masa probasi. Jika itu terjadi, orang tua harus menyerahkan rencana untuk diremediasi ditinjau oleh distrik sekolah.

Apakah Homeschooling Bekerja?

Menurut laporan 2011 dari National Home Pendidikan Research Institute, yang, tentu saja, sebuah kelompok advokasi homeschooling, homeschoolers biasanya mendapatkan nilai 15 sampai 30 poin persentil di atas siswa di sekolah negeri pada tes akademis-prestasi. Pada tahun 2002, College Board, yang mengelola SAT, mengatakan bahwa homeschoolers rata-rata 72 poin, atau 7 persen, lebih tinggi dari rata-rata nasional. Dalam hal penerimaan perguruan tinggi, penerimaan direksi mengatakan homeschoolers dievaluasi seperti anak-anak lain-pada prestasi akademik mereka, nilai ujian, surat rekomendasi, kegiatan ekstrakurikuler, dan sebagainya. Siswa yang berasal dari homeschooling yang lulus kuliah dalam waktu empat tahun pada tingkat yang lebih tinggi daripada rekan-rekan mereka-66,7 persen dibandingkan dengan 57,5 persen-dan memperoleh lebih tinggi rata-rata kelas-point, menurut sebuah studi yang membandingkan mahasiswa di sebuah universitas midwestern 2004-2009.
Namun homeschool bukanlah praktek yang mudah. Sangat menyita kerja keras dari orang tua. Terkadang ada juga orang tua yang berputus asa setelah menghabiskan sepanjang hari dengan anak-anak mereka-bukan hanya mengajar tapi memasak, membersihkan, belanja, mediasi argumen, dan bahkan tanpa istirahat dari sarapan hingga menjelang tidur. "Tentu saja, anak-anak saya cekcok dan membuat kekacauan dan kadang-kadang tidak ingin menyikat gigi atau membersihkan atau berlatih biola atau mengerjakan tugas sekolah mereka," kata Sposito. "Saya sudah menelepon suami saya di tempat kerja, menangis, karena saya tidak berpikir saya bisa berurusan dengan anak-anak hari itu."
Namun pada akhirnya, dia menunjukkan, dia masih senang atas kesempatan dapat mendidik anak-anaknya dengan cara yang dia inginkan dan menghabiskan sebagian besar waktunya bersama mereka dengan cara santai dan menyenangkan.